
Bandar Lampung, Jpl.news — Di tengah gegap gempita program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk menyehatkan generasi bangsa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bandar Lampung justru menorehkan kisah anggaran yang mencengangkan.
Tahun 2025, Disdikbud menggelontorkan Rp 10.049.999.773 untuk kegiatan Pembinaan Kelembagaan dan Manajemen Sekolah.
Namun, alih-alih digunakan untuk memperkuat mutu pendidikan, miliaran rupiah itu justru “tenggelam” dalam daftar belanja yang membingungkan: snack, nasi kotak, tinta printer, kertas Sidu, folio plastik, hingga flashdisk 16GB.
Dari April hingga Desember 2025, uang rakyat yang seharusnya menjadi bahan bakar peningkatan kualitas sekolah justru habis untuk kebutuhan konsumtif.
Tidak ada jejak jelas tentang pelatihan manajemen sekolah, penguatan kelembagaan, atau inovasi pendidikan. Yang tampak hanyalah daftar panjang belanja alat tulis dan konsumsi kegiatan.
Ironisnya, di saat banyak sekolah di Bandar Lampung masih kekurangan fasilitas dasar — dari ruang kelas bocor hingga kekurangan komputer — miliaran rupiah justru menguap untuk hal-hal sepele.
“Ini bukan pembinaan kelembagaan, ini pemborosan yang dibungkus administrasi,” ujar seorang pemerhati pendidikan yang enggan disebut namanya.
“Kalau uang sebesar itu hanya berputar di snack dan tinta printer, di mana letak tanggung jawab moralnya?”
Kritik publik pun menguat. Program MBG yang seharusnya menjadi simbol kepedulian terhadap gizi anak sekolah kini seolah dijadikan tameng untuk mengalirkan dana tanpa arah yang jelas.
Hingga kini, Disdikbud Kota Bandar Lampung belum memberikan klarifikasi resmi. Sementara itu, masyarakat menunggu jawaban: ke mana sebenarnya Rp 10 miliar uang pendidikan itu pergi?
Tanggapan pihak Disdikbud Kota Bandar Lampung akan ditayangkan pada edisi mendatang. (Red)


Tidak ada komentar