DPRD Lampung Ingatkan Dampak Kenaikan BBM terhadap Sektor Industri dan UMKM

Dick Ratna Sari
16 Jun 2026 19:51
Berita 0 6
2 menit membaca

Bandar Lampung – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor perekonomian, khususnya industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini dikhawatirkan turut memengaruhi daya beli masyarakat akibat meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Lampung, Amaluddin, mengatakan bahwa kenaikan harga BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat.

“Pastilah punya dampak. Terutama terhadap sektor industri, UMKM, dan pada akhirnya memengaruhi daya beli masyarakat. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” ujar Amaluddin kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, meningkatnya harga BBM akan menyebabkan biaya operasional pelaku usaha ikut naik. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh sektor industri berskala besar, tetapi juga oleh UMKM yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi dan distribusi berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa di pasaran. Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat sebagai konsumen akan menghadapi tekanan yang lebih besar terhadap kemampuan belanja mereka.

Sebagai langkah antisipasi, Amaluddin mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai menerapkan pola penggunaan energi yang lebih efisien guna mengurangi beban pengeluaran.

Meski demikian, ia menilai efisiensi energi hanya menjadi solusi sementara. Pemerintah, kata dia, perlu mengambil langkah strategis dengan mempercepat pengembangan energi alternatif dan energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Politisi dari Partai Demokrat tersebut menegaskan bahwa Indonesia harus mulai membangun kemandirian energi agar tidak terus terpengaruh oleh fluktuasi harga energi global.

“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan bahan bakar fosil. Pemerintah harus serius mendorong penggunaan energi alternatif dan energi terbarukan, seperti gas, bioetanol, dan sumber energi lain yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.

Selain mendorong percepatan transisi energi, Amaluddin juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap ketersediaan stok BBM nasional. Menurutnya, selama Indonesia masih bergantung pada impor BBM, ketahanan energi nasional akan tetap rentan terhadap gejolak pasar internasional.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat memastikan ketersediaan pasokan energi sekaligus mempercepat pengembangan energi bersih sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi masyarakat dari dampak kenaikan harga energi di masa mendatang. (Ist)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JPL TV

x
x